
BANDUNG, env.itb.ac.id – Peningkatan populasi dan perkembangan industri dewasa ini menyebabkan perubahan keadaan lingkungan. Kontaminasi dan polusi terjadi di berbagai komponen lingkungan, baik air, udara, maupun tanah. Berbagai upaya dilakukan guna mengembalikan keadaan lingkungan seperti semula. Salah satunya yakni yang dilakukan oleh Sub Kelompok Keahlian Bioteknologi Lingkungan, Prodi Teknik Lingkungan ITB, yang mengembangkan penelitian berbasis proses biologis dalam degradasi limbah.
Berada di bawah naungan Kelompok Keahlian Rekayasa Air dan Limbah Cair (KK-RALC), fokus dari Sub-KK Bioteknologi Lingkungan adalah untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan bioproses dalam hal pengolahan limbah maupun dalam pengembangan berbagai produk berbasis mikroorganisme dan produk ekstraselulernya. Sub-KK ini dibentuk oleh Prof. Dr. Ir. Wisjnuprapto, Dipl. SE, dan saat ini beranggotakan Ir. Edwan Kardena, Ph.D, Dr. Qomarudin Helmy, S.Si, M.T, dan Ir. Agus Jatnika Effendi, Ph.D.
Pengembangan proses biologis dalam pengolahan limbah merupakan hal yang menarik dan potensial untuk diterapkan. Mikroorganisme dioptimalkan potensinya dengan memanfaatkan limbah atau polutan sebagai sumber makanan sehingga lebih menguntungkan dari sisi lingkungan. Pemanfaatan limbah dan residu organik untuk dikonversi menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih juga dikembangkan oleh anggota Sub-KK Bioteknologi Lingkungan.
“Kami mengisolasi mikroorganisme, melakukan seleksi serta mengkarakterisasi mikroorganisme tersebut untuk kemudian diadaptasikan pada limbah atau polutan spesifik tertentu, sehingga akhirnya dapat ditentukan mikroorganisme spesifik yang mampu mendegradasi limbah tertentu,” jelas Dr. Qomarudin Helmy, S.Si, M.T, saat diwawancarai di Gedung Teknik Lingkungan pada Kamis (14/11/2019).

Dr. Helmy juga memberikan beberapa contoh pemanfaatan dari penelitiannya ini. Misalnya, koleksi mikroorganisme pendegradasi limbah tekstil telah dimanfaatkan oleh beberapa industri tekstil di daerah Bandung dan Cimahi, kemudian koleksi mikroorganisme pendegradasi limbah minyak (PETREA – oil eater microbes) telah dimanfaatkan oleh industri minyak dan gas di skala nasional. Saat ini, Dr. Helmy dan tim sedang mengembangkan mikroorganisme pendegradasi H2S yakni sulphur oxidizing bacteria. Bakteri ini diaplikasikan untuk mengurangi bau H2S pada badan air, dan sedimen yang tergenang dan septik.
“Bagi kami, hal ini merupakan prestasi yang melegakan karena hasil kerja kami dapat bermanfaat dan dinikmati oleh masyarakat dalam skala yang lebih luas, tidak terbatas skala kecil, seperti yang biasa kami lakukan di laboratorium,” tutur Dr. Helmy.
Penelitian skala laboratorium yang telah dilakukan sudah menghasilkan koleksi kultur mikrooragnisme dengan formulasi khusus untuk mendegradasi limbah secara spesifik. Beberapa kultur mikroorganisme yang sudah tersedia antara lain: pendegradasi limbah tekstil, pendegradasi limbah yang mengandung minyak, pendegradasi limbah domestik (hotel, rumah sakit, restoran, septic tank) dan pendegradasi bau H2S.

Ditanya mengenai tantangan, Dr. Helmy menjelaskan bahwa sejatinya tantangan dan oportunitas dalam pengelolaan limbah adalah pola pikir kita sebagai peneliti. Limbah seharusnya tidak dianggap sebagai buangan yang tidak berguna lagi, mindset yang harus dikembangkan ke depan adalah bagaimana menjadikan limbah sebagai bahan baku suatu produk.
“Untuk ke depan, kami berharap dapat mengeksplor lebih banyak mikroorganisme yang potensial untuk mendegradasi berbagai jenis limbah maupun dalam memproduksi produk dengan bahan baku limbah. Penelitian dan pengembangan juga akan kami arahkan menuju entrepreneurship sehingga lebih aplikatif dan implementatif supaya dapat dinikmati dampaknya oleh masyarakat luas, baik pemerintah, industri, maupun masyarakat umum,” pungkas Dr. Helmy.
Menutup wawancara, Dr. Helmy juga berpesan untuk memulai perilaku yang mendukung kelestarian lingkungan, karena menurutnya, perilaku manusia adalah cerminan perilaku terhadap lingkungan. Pengelolaan secara end of pipe bukan solusi terbaik dalam pengelolaan lingkungan. Ia berpesan, lebih baik mencegah dan menghindari adanya buangan, dibandingkan mengolah buangan. Oleh karena itu, ia mengajak untuk turut ambil peran dalam mengembalikan kondisi lingkungan agar tercapai kelestarian yang berkelanjutan.
Hal-hal sederhana seperti menggunakan air secukupnya, mengelola air buangan kamar mandi/cuci/kakus/dapur dengan benar, membuat lubang biopori di pekarangan rumah, menampung dan memanfaatkan kembali air hujan, serta dengan tidak membuang sampah sembarangan. Hal-hal kecil tersebut bila dilakukan oleh mayoritas penduduk suatu daerah, dipastikan akan memberikan dampak yang signifikan terhadap kelestarian lingkungan hidup.
Reporter : Annisa Nur Diana (Teknik Lingkungan 2015)


