BANDUNG, env.itb.ac.id—BNI-ITB Ultra Marathon 200K 2019 kembali menyambut para pencinta lari untuk unjuk gigi. Tahun ini, ribuan peserta turut memeriahkan acara yang diselenggarakan pada Jumat-Minggu (11-13/10/19). Tak ragu, perwakilan Ikatan Alumni Teknik Lingkungan (IATL), Firman Gunawan (TL’99) bersama dengan karibnya Chaidir Akbar (TL’99), bergabung dalam satu tim untuk kategori Relay 2.

Sejak tahun 2010, Firgun, begitu sapaan akrabnya, bekerja dan berdomisili di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Di tahun 2015, Firgun bertekad untuk disiplin berolahraga. Hingga sekarang, ia berhasil menjadi penggagas komunitas lari bertajuk “Berau Runners”. Tujuannya adalah menyebarkan virus untuk berolahraga, utamanya berlari.
Persiapan Secara Intensif
Untuk memastikan dirinya tetap berlatih, Firgun menargetkan untuk mengikuti dua maraton setiap tahunnya. Setidaknya, dibutuhkan latihan secara intensif selama empat bulan sebelum full-marathon. “Kalau kita nggak ikut lomba, kita nggak punya target, dan itu yang bikin malas untuk latihan.” pungkasnya.
Terhitung sejak awal Juli, Firgun disiplin mengisi awal pekan dengan berlatih di gym untuk lari di treadmill dan latihan penguatan otot. Akhir pekan ia isi dengan berlari 21 km – 61 km per harinya. Pada puncak latihan, Firgun dapat menempuh jarak 60 km di hari Sabtu sedangkan di hari Minggu ia berlari sejauh 42 m.
Prinsip Firgun adalah bagaimana mensimulasikan latihan semirip mungkin dengan lomba dan saat lomba jangan melakukan hal-hal yang tidak dilakukan saat latihan. Bagaimana mengatur mental latihan itu seperti lomba dan lomba itu seperti latihan.

“Lebih baik kita tersiksa saat latihan tapi happy pas lomba daripada, kebalik, kita malas saat latihan tapi pas lomba tersiksa, seluruh badan sakit, collapse.” ujar pria yang dulunya gemar bermain sepak bola tersebut.
Firgun menerapkan diet low-carbo dalam kesehariannya dengan cara memperbanyak asupan lemak dan juga protein. Hal ini dilakukan mengingat untuk kategori olahraga dengan durasi lama seperti Ultra Marathon, sumber energi yang dapat diandalkan adalah dari cadangan lemak.
Tak hanya itu, waktu tidur pun diupayakan minimal tujuh jam per hari agar proses pemulihan tubuh dari kelelahan dapat berjalan efektif. Untuk membantu memulihkan pegal otot, Firgun rutin merelaksasi otot-ototnya dengan roller juga setiap dua minggu sekali menggunakan jasa pijat (massage).
Persiapan dalam menghadapi Ultra Marathon yang tak kalah penting bagi Firgun adalah melengkapi gear. Mulai dari sepatu, hydrobag, botol softflask, water bladder, arm cooler, hingga perlengkapan pakaian yang nyaman, ringan, dan antilecet.
Tempuh Jarak 200 Km Kategori Relay 2
Mulai Jumat (11/10/19), peserta semua kategori mulai berlari pukul 22.00 WIB di BNI Pusat Sudirman, Jakarta. Chaidir sebagai pelari pertama mulai berlari dengan jarak 94 km hingga pukul ±12.00 WIB dengan posisi di Puncak, sedangkan Firgun harus menempuh jarak 106 km. Penentuan pembagian jarak tempuh ini didasari total nilai elevasi (elevation gain) atau total tanjakan yang harus dilewati.

Di perjalanan, Firgun mengaku kondisi medan maraton yang berupa tanjakan-turunan menjadi tantangan tersendiri. Menurutnya, kondisi medan yang menurun bisa menjadi jebakan dan tidak melulu mudah. Meski sudah merencanakan kecepatan untuk berlari (pace), kondisi medan mengubah rencana. Firgun menjelaskan, “Di awal overspeed. Susah direm karena secara natural menggelinding. Otot dipaksa untuk bekerja sehingga cepat capek.”
Berbekal nutrisi yang sudah dilarutkan dalam air dan disimpan dalam water bladder, Firgun tetap bertenaga sepanjang jalan. “Lari 15 jam. Rasa kantuk tidak ada. Rasa lapar tidak ada. Bosan tidak dialami. Nutrisi dapat terpenuhi, lebih mudah dicerna dan dikonsumsi.” jelasnya.
Di akhir perjalanan, keinginan Firgun untuk terus maju masih ada tetapi kemampuannya semakin menurun. “Nafas masih oke. Jantung masih oke. Paha, lutut, dan tapak kaki sudah panas betul.” ungkapnya. Meski demikian, Firgun tetap berhasil menuntaskan langkahnya hingga tiba di kampus ITB Ganesha sekitar waktu subuh, sisa ±3,5 jam lagi menuju cut-off time.

Esensi Olahraga Lari
Bagi Firgun, lari tidak hanya melatih fisiknya menjadi lebih kuat dan bugar. Lebih dari itu, lari mengajarkannya untuk selalu berpikir positif, untuk fokus dengan target, untuk merencanakan dan membuat strategi yang baik, serta untuk selalu disiplin dan berkomitmen terhadap rencana.
“Jangan mikir turunin berat badan tapi investasi kesehatan. Jangan sampai sibuk cari nafkah, tapi ketika sudah tua malah sibuk terapi, sibuk berobat. Sekarang, sih, nikmati olahraga rutin, makan nggak dibatasi, nggak khawatir.” ungkapnya. Firgun juga tidak pernah menganggap lomba lari sebagai kompetisi untuk bersaing dengan orang lain. “Lari itu bukan mengalahkan orang lain, tapi mengalahkan diri sendiri. Rasa malas kita, ego kita.” tuntas Firgun.
Salah satu alasan Firgun mengikuti BNI-ITB Ultra Marathon adalah rasa kebersamaan. “ITB Ultra ini menarik karena bukan sekadar olahraga, tapi lebih banyak unsur kebersamaan. Kita bisa semakin dekat dengan angkatan dan jurusan lain. Bisa reuni dengan jurusan atau angkatan kita.”
Tips dan Trik Olahraga Lari
Terakhir, Firgun menyampaikan beberapa tips dan trik terkait lari yang dapat diterapkan, di antaranya:
- Tujuan. Pastikan punya tujuan yang jelas. Lari jangan sekadar bertarget untuk turun berat badan. Target harus spesifik, terukur, dan realistis.
- Strategi atau training plan. Cari literatur terkait latihan lari sehingga dapat disusun strategi berlatih yang sesuai dengan diri. Jangan overtraining maupun undertraining.
- Komitmen dan disiplin. Jalankan apa yang sudah direncanakan.
- Catat hasil latihan. Gunakan aplikasi lari untuk mengetahui perkembangan lari sehingga dapat ditinjau apakah target tercapai atau tidak. Lakukan evaluasi.
- Teman. Cari teman atau komunitas sehingga bisa saling mengingatkan untuk latihan.
- Sering daftar lomba. Lomba akan memaksa diri untuk latihan.