
BANDUNG, env.itb.ac.id – Siapa yang tidak kenal dengan Qinthar Audiawarman dan Annisa Nurantono, mahasiswi program studi sarjana Teknik Lingkungan ITB angkatan 2016 ini kerap kali ikut berbagai kompetisi dan berhasil memenangkannya. Prestasi Qinthar dan Annis sudah tidak perlu diragukan lagi, mulai dari kompetisi tingkat nasional hingga internasional semua sudah dicicipi!
Semua bermula dari keisengan keduanya mengikuti kompetisi mahasiswa tingkat nasional di Universitas Jember yang bertajuk ‘Jember Social and Political Days’ (JSPD) pada awal semester 5 tahun 2018. Pada kompetisi tersebut, Qinthar dan Annis merancang sebuah sistem pengumpulan dan penjualan sampah domestik terintegrasi menggunakan website . Hal ini sesuai dengan tema yang saat itu diusung yaitu kontribusi Indonesia di era 4.0. Sampah domestik yang sudah dipilah kemudian akan dikumpulkan menggunakan motor sampah dan dijual kembali kepada masyarakat luas yang membutuhkan. Setiap sampah domestik yang sudah dipilah dan layak jual akan di-update pada laman website sehingga calon pembeli dapat melihat barang apa saja yang tersedia saat itu. Berkat kegigihan dan kerjasama tim yang baik, keduanya berhasil merebut juara 1 dan kategori best paper.

Tidak hanya itu, perjalanan berlanjut ke Taiwan dalam sebuah kompetisi bertajuk ‘2019 TECO Green Tech International Contest’ yang diselenggarakan oleh TECO Foundation pada Juli lalu. Pada kompetisi ini, keduanya membawa ide recycle baterai bus elektrik trans jakarta menjadi sebuah panel surya. Baterai bus elektrik yang sudah digunakan akan menurun efisiensinya mencapai 80% dari keadaan semula. Namun, meskipun masih 80% efisiensi baterai ini sudah tidak dapat digunakan sebagai baterai bus kembali. Oleh sebab itu, munculah ide kreatif untuk mendaur ulang baterai menjadi panel surya yang masih bisa digunakan oleh masyarakat luas. Qinthar dan Annis akhirnya berhasil membawa pulang gelar Top Ten Finalists setelah melawan berbagai kalangan peserta mulai dari mahasiswa sarjana, pasca sarjana, professor hingga profesional! Sebuah prestasi yang membanggakan.

Perjalanan terakhir berlabuh pada kompetisi yang diselenggarakan oleh sebuah organisasi keprofesian mahasiswa Sekolah Teknik Elekktro dan Informatika (STEI) Agustus silam, Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE). Qinthar dan Annis kembali mengharumkan nama Teknik Lingkungan ITB dengan membawa pulang medali juara 3.

Dibalik semua pencapaian tersebut, keduanya tetap aktif pada berbagai macam organisasi mahasiswa seperti Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) ITB dengan menjadi badan pengurus. Meluangkan waktu adalah kuncinya. “Semua orang pasti sibuk akademik siang harinya, jadi kita pasti kalau ngumpul ya malam hari. Memang harus diluangin waktunya biar semua bisa tetap jalan seimbang” jelas Qinthar. “Anak pintar udah banyak, tapi banyak yang sudah masuk ke zona nyaman dan panik duluan sebelum mulai apa-apa. Jadi, gas aja terus jangan kebanyakan mikir” tambah Annis. Mengikuti kompetisi tidak hanya melatih kita bekerja sama dalam tim, namun kita juga bisa menemukan banyak fakta-fakta dan kejadian baru yang tidak akan ditemukan kalau hanya duduk di bangku kuliah saja. Sebuah cerita yang menginspirasi kita semua untuk terus bergerak dan berprestasi. Jangan sampai masa kuliah hanya terlewati begitu saja ya.
Ditulis oleh
Devyandra Eka Putri


