(022) 250-4952
tu@tl.itb.ac.id
TEKNIK LINGKUNGAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

Berita

“Menjadikan Prodi Teknik Lingkungan ITB sebagai lembaga pendidikan tinggi dan pusat pengembangan IPTEK ynag memiliki keunggulan kompetitif dan handal”

Diskusi Laboratorium Buangan Padat dan B3 : Bandung Darurat Sampah

  Laboratorium Buangan Padat dan B3, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung (FTSL ITB) menyelenggarakan diskusi terbuka pemerhati-pelaku pengelolaan sampah Bandung dengan topik “Utamakan Pengelolaan Sampah di Sumber – Hambatan, Kendala, dan Peluang” pada hari Sabtu (13/11/2021) sore. Diskusi dipantik oleh Gun Gun Saptari (Ikatan Alumni Teknik Lingkungan ITB), Ria Ismaria (Bandung Juara Bebas Sampah), M. Ardhi Elmeidian (Paguyuban Pegiat Magot Nusantara), Fei Febri Nababan (Bank Sampah Bersinar), dan David Sutasurya (Yayasan Pengembangan Biosain dan Bioteknologi), serta dipandu oleh Prof. Enri Damanhuri (Guru Besar FTSL ITB). Diskusi terbuka diadakan sebagai respon dari kondisi darurat sampah yang terjadi di Kota Bandung dan Kota Cimahi akibat TPA Sarimukti—satu-satunya tempat pemrosesan akhir yang menerima seluruh sampah dari Kota Bandung, Kota Cimahi, dan sekitarnya—untuk sementara tidak bisa beroperasi. Prof. Enri membuka diskusi dengan memaparkan kondisi TPA Sarimukti yang sudah mengalami kelebihan kapasitas sampah sehingga sudah seharusnya ditutup, kondisi ini diperparah oleh kondisi hujan. Akan tetapi, TPPAS Legok Nangka yang direncanakan untuk menjadi pengganti TPA Sarimukti saat ini masih dalam proses tender dan diperkirakan baru dapat beroperasi dalam 3 tahun kedepan. Penghentian sementara operasional di TPA Sarimukti mengakibatkan terjadinya penumpukkan sampah di beberapa TPS di Kota Bandung. Terdapat sekitar 50 ritasi truk sampah yang tidak bisa dibawa ke TPA Sarimukti sehingga pengangkutan sampah tidak dapat berjalan dengan semestinya. Saat ini Kota Bandung hanya bisa bergantung pada TPA Sarimukti karena keterbatasan lahan yang dapat digunakan untuk pembangunan TPA. Forum Bandung Juara Bebas Sampah (BJBS) memberikan rekomendasi kepada wali kota untuk mempercepat pengurangan sampah yang perlu diangkut ke TPA. Ria mengatakan bahwa dalam konsep jangka panjang diperlukan adanya edukasi kepada masyarakat untuk mendorong adanya pemilahan dari sumber. Dalam upaya mengurangi pengangkutan sampah ke TPA Sarimukti, Kota Bandung sudah menyelenggarakan program Kang Pisman sejak tahun 2018. Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan) merupakan program zero waste yang menggunakan prinsip reduce, reuse, dan recycle. Kang Pisman bertujuan agar pengelolaan sampah sebisa mungkin dilakukan di halaman rumah masing-masing. Namun, setelah 3 tahun digencarkan, dampak pengolahan sampah di sumber belum terasa. Gun gun selaku salah satu pemrakarsa program Kang Pisman menyatakan bahwa kendala dalam menerapkan program ini adalah tidak adanya tata kelola di tingkat RW atau Kelurahan. Selain edukasi, perlu dibuat juga tata kelola sistem Kang Pisman di tingkat RW atau Kelurahan yang didampingi secara langsung oleh DLHK. “Jika sistem Kang Pisman dijalankan 100%, maka sampah yang dibuang hanya jenis residu/sisa/sampah lainnya,” ucapnya. Selain program Kang Pisman, sudah terdapat beberapa upaya pengelolaan sampah yang dilakukan oleh berbagai lembaga di Kota Bandung. Salah satunya adalah pengolahan sampah organik dapur oleh Paguyuban Pegiat Maggot. Ardhi mengatakan bahwa pada tahun 2021, terdapat 58 pegiat maggot di Bandung Raya yang dapat mengolah sampah organik dapur sebanyak 6,9 ton per hari atau 2.517,51 ton per tahun. Akan tetapi, kondisi pegiat maggot Bandung Raya saat ini mengalami beberapa kendala, di antaranya adalah belum adanya dukungan formal dari pemerintah daerah kabupaten/kota, infrastruktur, sarana, dan prasarana terbatas, serta supply sampah organik dapur yang terkendala. Upaya pengelolaan sampah juga dilakukan oleh Bank Sampah Bersinar (BSB). Kunci utama BSB sebagai bank sampah induk adalah edukasi, saat ini BSB sudah membawahi 312 unit bank sampah di Kabupaten Bandung, Kota Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat. BSB sudah mengedukasi lebih dari 1.000 lokasi dengan 11.000 register nasabah. Fei mengatakan bahwa selama tidak ada regulasi yang mengatur secara tegas untuk memilah sampah, masyarakat punya pilihan untuk memilah sampah atau tidak. Oleh karena itu BSB menggunakan pendekatan manfaat ekonomi yang akan didapat oleh masyarakat jika melakukan pemilahan sampah. “Mungkin apa yang kami lakukan di Kota Bandung belum terlalu besar, tapi kami berharap kami bisa menjadi salah satu bagian dari solusi juga, kita bisa mengedukasi masyarakat bersama sama, dan masyarakat punya opsi, setelah saya pilah sampah saya mau dibawa kemana, jadi nggak sekedar habis pilah sampah digabung lagi nanti di dalam satu roda, tapi mereka benar-benar punya fasilitas saat pilah sampahnya, bisa dapat benefit dari sampah tersebut”, ujar Fei. David menambahkan bahwa inisiatif pengelolaan sampah di Kota Bandung sudah banyak dan sangat baik, akan tetapi masalah terbesar terdapat pada tata kelola dan sistem pemerintahan yang tidak siap untuk mengelola sumber sampah di Kota Bandung yang sangat banyak dan tersebar. Selain dukungan masyarakat, diperlukan adanya dukungan dan keberanian politik dari pemerintah dalam menyelenggarakan sistem operasional dan melakukan penegakan hukum. Diskusi ditutup oleh masukan dari beberapa warga Kota Bandung mengenai kondisi pengelolaan sampah di masing-masing wilayah. Prof. Enri menjelaskan bahwa hasil dari diskusi ini akan ditindak lanjuti oleh internal Laboratorium Buangan Padat dan B3 FTSL ITB, untuk selanjutnya dibuat narasi, usulan, dan rekomendasi yang akan diserahkan kepada pemerintah Kota Bandung. Hasil diskusi diharapkan dapat membantu pemerintah daerah dalam menyelesaikan masalah persampahan di Kota Bandung.

Gambar : Terjadi Penumpukan dan antrian gerobak sampah di sekitar Jalan Taman Sari akibat gangguan di TPA Sarimukti

Foto oleh : Lentina T Simangunsong

Copyright © 2024 Prodi Teknik Lingkungan
FTSL - ITB
Scroll to Top