
BANDUNG, env.itb.ac.id – Semangat mengikuti kompetisi belum padam meski sudah memasuki semester ke-tujuh perkuliahan. Itulah yang dirasakan oleh Tim Gaseous, pemenang juara kedua kompetisi desain yang diselenggarakan Teknik Lingkungan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta pertengahan November lalu. Tim yang diketuai oleh Adriel Joshua (22) dan beranggotakan Jihan Nabila (21), Puti Rizqi (21), Reyhan Alif (21) dan Nadhir Tanudjiwa (21) merupakan mahasiswa Teknik Lingkungan ITB angkatan 2016. Perjalanan yang menyenangkan sekaligus penuh makna mengenai keterlibatan mereka pada lomba ini patut disimak hingga akhir!
Tim yang Saling Melengkapi dan Membangun
Bagi Jihan, kuliah di ITB memiliki beberapa life plans sebagai target yang harus dipenuhi semasa kuliah. Salah satu life plans tersebut adalah aktif mengikuti kompetisi pada tingkat tiga kuliah. Namun karena terhalang kesibukan akademik dan kegiatan organisasi, hal tersebut belum sepenuhnya tercapai. Sedangkan Puti mengaku mendapatkan ilham untuk mengikuti lomba saat menyelesaikan kuliah praktik semester enam lalu. Lain lagi dengan Reyhan yang mengaku bosan dengan kegiatan kuliah, ia memilih mengikuti lomba untuk mengisi waktu luang. Bagi Sang Ketua, Adriel, mengikuti lomba berarti memberikan kesempatan padanya untuk mengaplikasikan ilmu yang di dapat di bangku kuliah. Meskipun berangkat dari motivasi yang berbeda-beda, Tim Gaseous berhasil menjadi tim yang maju dan memenangkan kompetisi.
“Senang sekali bisa satu tim dengan komposisi seperti ini. Aku termasuk orang yang cukup pesimis ketika melihat kompetitor dengan desainnya jauh lebih bagus, tapi ada Reyhan yang selalu positive thinking dan dijalani saja. Sehingga aku juga menjadi semangat untuk melanjutkan kompetisi ini” sahut Puti. Tidak bisa dipungkiri salah satu keberhasilan sebuah tim sangat bergantung pada kerja sama tim tersebut. Kadangkala, karena terbentur dengan tuntutan akademik yang tinggi ditambah amanah pada organisasi membuat kita harus pandai mengatur waktu dan ego. “Kami mengerjakannya malam hari atau jadwal mingguan di hari selasa. Memang harus berkorban jam tidur, tapi worth it dan seru” aku Reyhan.
Menurut Puti, dirinya merasa kagum dengan rekan satu tim lainnya. Seperti Adriel yang mengemban tanggung jawab sebagai Senator HMTL namun masih bisa melakukan semua hal dengan baik melewati batas-batas yang umumnya dimiliki mahasiswa. Sedangkan Reyhan yang terlihat diam-diam saja, ternyata selalu berhasil dengan apa yang dilakukannya. Kita bisa saling belajar dari tim kita masing-masing.
Pada kompetisi ini, Tim Gasesous menjadi satu-satunya peserta dengan tema air terproduksi dari penambangan minyak dan gas yang berhasil maju ke babak final. Dengan studi kasus wilayah Bojonegoro, Jawa Timur, Tim Gaseous melakukan social mapping terlebih dahulu karakteristik dan kondisi sosial, ekonomi serta budaya warga setempat. Setelah didapatkan data, Tim mulai merancang unit pengolahan air terproduksi yang mudah dioperasikan dan tidak menyulitkan warga. Unit pengolahan dengan sistem hidrolis menjadi pilihan utama. “Bagaimana caranya sebisa mungkin warga mudah menggunakannya” tutur Jihan.
Selain itu, berkat diskusi dengan Bapak Sonny Abfertiawan selaku dosen pembimbing Teknik Lingkungan, Tim mendapat ide membuat IPAL portable yang dapat dipindahkan-pindahkan dari satu wilayah sumur ke wilayah sumur lainnya. Hal ini tentu menghemat biaya produksi dan operasional IPAL tersebut untuk beberapa kali periode operasi mengingat bahwa jumlah sumur yang tersisa sebanyak 453 sumur.
Reyhan menjelaskan bahwa berkat mengikuti kompetisi ini pengetahuannya bertambah mengenai desain unit pengolahan air limbah, baik secara teknis maupun non-teknis. Masukan dari para dewan juri saat presentasi berlangsung dan hasil karya tim lainnya memperkaya pengetahuan tersebut. Selain itu, mengikuti kompetisi seperti ini membuat kita belajar bahwa di luar sana ada banyak orang hebat lainnya yang mungkin persiapannya lebih matang dari kita sehingga memacu kita untuk lebih baik lagi pada kesempatan selanjutnya.
“Bagaimana cara kita memasukkan inovasi dan brain storming bersama teman dalam satu kelompok itulah seni dalam mengikuti lomba” tutur Adriel. Inovasi kadang tidak datang saat benar-benar kita butuhkan, tapi justru datang dari hal-hal kecil yang ternyata bisa dijadikan suatu hal bermanfaat. Mengikuti lomba adalah tentang kreativitas. Dengan segala rintangan yang ada, kita tetap bisa survive memberikan solusi dari permasalahan tersebut. Kunci lainnya juga terletak pada kemampuan kita berkolaborasi dengan dosen kelompok keahlian yang bersangkutan, sebab dari beliaulah banyak pintu-pintu pengetahuan yang tidak kita ketahui sebelumnya menjadi terbuka.


Selain Tim Gaseous, ITB juga mengirimkan empat tim lainnya yang terdiri dari mahasiswa Teknik Lingkungan (TL) dan Rekayasa Infrastruktur Lingkungan (RIL). Komposisi setiap tim beragam mulai dari pejabat himpunan mahasiswa jurusan hingga mahasiswa akademisi. Hal ini menunjukkan bahwa siapa saja bisa mengikuti kompetisi tidak terbatas pada seberapa banyak kesibukan akademik atau non-akademik yang sedang diemban. “Kita nggak akan mati karena terlalu sibuk kok. Senator saya, Muthi, pernah mengatakan bahwa jika kita selalu produktif akan memacu kita untuk menjadi pintar” sahut Adriel. Semua pasti akan berlalu asalkan kita menjalaninya dengan bahagia.
“Beberapa orang mungkin akan berpikir, ‘Ah kakak itu wajar menang lomba karena akademiknya bagus, manajemen waktu dalam berorganisasinya pun bagus’, padahal bukan seperti itu. Semua bisa mengikuti lomba, siapapun itu. Dengan kita mengikuti lomba, kita bisa tahu bahwa ada atap yang lebih tinggi dari atap kita. Jangan mencoba menggapai atap yang kita lihat saat ini saja, karena ada banyak atap yang lebih tinggi lagi” jelas Reyhan. Jangan takut untuk memulai, semua keberhasilan perlu dimulai dari memberanikan diri terlebih dahulu untuk menembus banyak ‘atap-atap’ selanjutnya.
Ditulis oleh,
Devyandra Eka Putri


