

BANDUNG, env.itb.ac.id— Nama Swietenia Puspa Lestari (TL’2012) belakangan ini ramai di berbagai media setelah ia dinyatakan sebagai 100 wanita paling inspiratif dan berpengaruh tahun 2019 oleh media ternama dunia, British Broadcasting Corporation (BBC). Melalui yayasan dan komunitas Divers Clean Action (DCA) atau Yayasan Penyelam Lestari Indonesia yang didirikannya, Tenia, begitu panggilan akrabnya, mulai fokus berjuang melawan isu sampah di laut dan pulau-pulau kecil.
Hingga sekarang, setidaknya terdapat 1500 relawan yang sudah bergabung dalam DCA. Tenia juga menginisiasi kampanye “No Straw Movement” yang berhasil mereduksi penggunaan sedotan plastik sekali pakai di lebih dari 700 restoran di Indonesia.
Sempat Tinggal di Kepulauan Seribu
Semua berawal dari latar belakang Tenia yang memiliki kedekatan emosional dengan laut. Wanita yang sudah belajar menyelam sejak SD dan mendapat lisensi menyelam saat duduk di bangku SMP ini pernah tinggal di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, pada tahun 2003-2007. “Bapak saya sempat menjadi kepala Taman Nasional Kepulauan Seribu. Makanya tiap Sabtu, Minggu, dan libur sekolah pasti ke sana.” ungkap wanita yang pernah bercita-cita menjadi diploma ini.
Tenia menyaksikan sendiri perubahan dan perkembangan wisata di pulau tersebut, terutama fakta bahwa sampah di pulau tersebut semakin bertambah, apalagi saat belum adanya sistem pengelolaan sampah.
Meski di tahun 2015 mulai ada sistem pengelolaan sampah, ternyata belum terdapat perubahan yang signifikan karena sistemnya belum terintegrasi. Masih saja ada warga yang membuang sampah sembarangan. Saat itu Tenia merasa banyak tantangan dalam menyelesaikan permasalahan itu, salah satunya adalah ia merasa tidak berdaya untuk mengupas permasalahan tersebut sendiri.
Akhirnya, Tenia memutuskan untuk mencari dukungan dari lembaga nonprofit. Namun, belum ada lembaga nonprofit yang fokus ke isu sampah laut dan pulau-pulau kecil. “Ngurusin yang di darat aja belum beres,” ungkap Tenia menceritakan tanggapan orang-orang setelah ia mengajukan idenya tersebut.
Penemuan Sampah di Berbagai Lokasi Penyelaman
Semakin sering Tenia melakukan penyelaman di berbagai lokasi selam dari ujung barat ke ujung timur Indonesia, semakin ia khawatir karena permasalahan yang selalu ditemuinya adalah sampah laut. “Bahkan di lokasi yang cukup dalam dan arusnya kencang, masih ada sampah.” pungkas Tenia menceritakan pengalamannya menyelam.

Ketika di bangku kuliah, timbul tanya dalam hatinya setelah mempelajari teori sistem pengelolaan sampah. “Aku jadi refleksi. Teori ini, kok, ngga berlaku atau ngga diaplikasikan di pulau-pulau kecil?”
Semenjak itu, Tenia bertekad untuk mulai berbuat sesuatu, terutama mulai dari para komunitas penyelam selaku penikmat pulau kecil dan pesisir. Bersama komunitasnya, Tenia mulai menggalakkan diving clean-up setiap bulan. Hingga akhirnya di akhir tahun 2015, Tenia dan kedua rekannya M. Adi Septiono (TL’2010) dan Nesya Ichida (The Open University’2014) yang dipersatukan karena hobi menyelam ini membuat komunitas yang sekarang sudah resmi dikenal sebagai Divers Clean Action. Dengan total 9 staf dan lebih dari 1500 relawan seluruh Indonesia, DCA bertujuan mengembangkan peran pemuda dalam melawan isu sampah laut terutama pada pulau-pulau kecil Indonesia.

Peran DCA bagi Masyarakat
Selain aktif bekerjasama dalam melakukan riset bersama beberapa universitas, DCA juga mengimplementasikan program kolaborasi berbau lingkungan bersama institusi menyelam, mengambil peran sebagai fasilitator untuk pengembangan komunitas pesisir, dan melakukan berbagai kampanye dan pelatihan. Lewat program eco-trip, DCA pun memiliki misi mempromosikan dan mengimplementasikan pariwisata laut berkelanjutan.
Pada 2017 dan 2019, DCA berhasil membuat program pelatihan dan pengembangan bagi para pemuda/i dari berbagai provinsi bertajuk “Indonesian Youth Marine Debris Summit (IYMDS)”. Kegiatan ini ditujukan bagi para pemuda yang memiliki ide dan gagasan kreatif, untuk berkolaborasi menyelesaikan permasalahan sampah laut dan diselenggarakan setahun sekali. Tak hanya itu, DCA juga menyelenggarakan program yang serupa setingkat Asia Tenggara, yaitu Young South East Asian Leaders Initiatives Marine Debris Expedition pada 2018 lalu.

Tantangan Mengembangkan DCA
Dalam proses mengembangkan DCA, tentunya Tenia dihadapkan dengan berbagai tantangan. DCA merupakan lembaga nirlaba. Namun, hal ini tidak dianggap Tenia sebagai kendala, melainkan tantangan bagi dirinya untuk terus belajar. Ia mengaku DCA harus fokus pada program-program entrepreneurship agar lembaga tersebut dapat berlanjut tanpa bergantung pada dana hibah.

Tak jarang, pengetahuan dan pengalaman Tenia dipertanyakan orang-orang karena ia dianggap sebagai ‘anak bawang’ yang belum banyak tahu. Namun itu menjadi dorongan baginya untuk membuktikan kemampuannya melalui program-program yang menjanjikan.
Proses yang penuh tantangan ini tentunya tak akan terlewati tanpa adanya peran tim. Tenia meyakini bahwa mengelilingi diri dengan orang-orang yang pikirannya sama, berenergi positif, dan mengerjakannya dari hati menjadi hal yang penting.
Tenia mengakui bahwa bapak dan ibunya adalah tokoh inspirasinya. “Bapak pernah bilang, ’Kalau mau mengubah sesuatu, harus masuk dulu ke dalam sistemnya. Harus tau apa yang harus diubah dari dalam.’ Dulu aku ngeliat masalah sampah ini gimana ya? Makanya bener-bener terjun dari ujung hulu sampai hilir.”

Secercah Harap untuk Masyarakat dan Pemerintah
Tenia berharap, semoga sampah yang masuk ke lautan Indonesia semakin berkurang karena kapasitas daur ulangnya meningkat dan produksi sampahnya bisa berkurang dari sumber. Untuk pemerintah, ia menjelaskan harapannya, “Semoga dengan adanya peraturan yang baru, pemerintahan yang baru, komitmen yang lebih tinggi dapat diimplementasikan untuk bisa menginvestasikan pada area-area daur ulang yang lebih luas. Selain itu, pengurangan plastik sekali pakai dan juga barang-barang yang sulit didaur ulang dari sumber dapat didukung dengan kebijakan dari pemerintah.”
Pesan terakhir wanita kelahiran Bogor, 23 Desember 1994, ini adalah untuk para mahasiswa.
“Manfaatkanlah waktu sebagai mahasiswa untuk mencari ilmu, mencari network, karena kesempatan belajar dan bekreasi saat mahasiswa jauh lebih besar dan menjadi fundamental dan menjadi fondasi yang kuat sebelum masuk dunia kerja.” pungkas wanita yang juga gemar bermain futsal ini.
Reporter : Sitti Mauludy Khairina
Editor : Nur Novilina A.


