
BANDUNG, env.itb.ac.id — International Water Association – Asia Pacific Regional Group (IWA-ASPIRE) kembali mengadakan konferensi dan pameran untuk yang ke-8 kalinya. Tahun ini bertempat di Hong Kong, IWA-ASPIRE mengusung tema “Smart Solutions for Water Resilience”. Acara tahunan Asosiasi Air Internasional tersebut dihadiri lebih dari 1000 partisipan dengan menghadirkan berbagai ahli sebagai pembicara dari seluruh regional Asia Pasifik.
Beberapa sub-tema yang dihadirkan pada IWA-Aspire tahun ini diantaranya adalah Climate Change, Green Technology, Wastewater Treatment Technologies, Wastewater Policy and Governance, Wastewater Policy and Governance, Water Policy and Governance, Water Resources Management, Water Supply Management, Water Sustainability, dan Water, Sanitation and Health. Setiap peserta konferensi dan pameran dapat mengumpulkan abstrak dan poster mengenai penelitian yang sedang digeluti.
Pada acara tersebut, Prof. Dr. Ing. Prayatni Soewondo MS dan Ir. Agus Jatnika Effendi Ph.D sebagai dosen Teknik Lingkungan ITB bersama Prof. Tjandra Setiadi dari program studi Teknik Kimia ITB menjadi tiga orang perwakilan Indonesia. Sebagai ahli dari bidang rekayasa air dan limbah cair, Ibu Pray dan Pak Agus (begitu sapaan akrabnya) menampilkan riset dalam bentuk poster. Pada saat diwawancarai, Ibu Pray menjelaskan bahwa tema riset pada penelitiannya berjudul “Performance Assesssment of Difference Mineral Wool Types as a Supporting on Site Water Body Treatment Technology in Cikapayang River, Bandung City”. Sebuah riset yang bekerja sama dengan TU Delft dan Drainblock BV Belanda mengenai dua macam mineral wool berbeda karakteristik dan bentuk penampang yang dapat digunakan untuk menyisihkan polutan dari badan air, baik secara fisik, kimia dan biologis. Sebagai objek studi kali ini dipilih Sungai Cikapayang yang mengalir di Kota Bandung.

Konferensi internasional yang turut mengundang berbagai stakeholder, mulai dari pemerintah, akademisi, peneliti dan pihak institusi tersebut mendukung upaya ketahanan air bagi seluruh masyarakat dunia dengan kolaborasi yang memberikan solusi dan dampak yang nyata. “Kerja sama industri dengan perguruan tinggi sebenarnya sudah begitu dekat sehingga menghasilkan produk yang berguna. Namun, di Indonesia hal tersebut masih kurang. Riset sudah ada namun belum sampai pada tahap produksi,” tutur Ibu Pray mengenai kondisi kolaborasi riset antara perguruan tinggi dan industri Indonesia saat ini.
Ditulis oleh
Devyandra Eka Putri


